Oleh Harmen Batubara
Dunia sering kali terjebak dalam angka-angka di
atas kertas: jumlah hulu ledak, anggaran militer, atau kecanggihan teknologi
siluman. Dalam kalkulasi ini, Iran sering disebut sebagai "target
empuk" karena disparitas teknologi dengan Amerika Serikat. Namun, sejarah
membuktikan bahwa perang bukan sekadar hitung-hitungan perangkat keras.
1. Kesiapan
Mental: Belajar dari Venezuela
Amerika memang berhasil menundukkan Venezuela,
namun perlu diingat bahwa proses itu membutuhkan persiapan berbulan-bulan untuk
melumpuhkan sistem yang relatif statis.
Iran adalah cerita yang berbeda. Seluruh sistem pertahanan Iran berada dalam kondisi "siaga
perang" yang permanen. Mereka tidak hanya menunggu; mereka mempelajari
setiap pola serangan AS dan Israel selama puluhan tahun. Iran tahu di mana
titik lemah sang raksasa, dan mereka telah membangun benteng asimetris yang
dirancang khusus untuk mematahkan dominasi konvensional.
2. Titik
Balik: Tenggelamnya Simbol Kekuatan
Strategi Amerika sangat bergantung pada dukungan
tanpa ragu dari NATO, Israel, dan sekutu Timur Tengah. Namun, psikologi perang
bisa berubah dalam sekejap jika sebuah Kapal Induk AS—simbol
supremasi laut dunia—berhasil ditenggelamkan atau setidaknya dilumpuhkan oleh
Iran.
Jika itu terjadi:
Kekuatan Proksi Melipat Ganda: Milisi dan jaringan proksi Iran di seluruh kawasan akan mendapatkan
suntikan moral yang luar biasa untuk menyerang pangkalan militer AS di Timur
Tengah secara serentak.
Runtuhnya Narasi Tak Terkalahkan: Begitu kapal induk tenggelam, keraguan akan menyelimuti negara-negara
sekutu. Dukungan yang tadinya "tanpa ragu" bisa berubah menjadi langkah
mundur demi penyelamatan diri masing-masing.
3. Modal Tak
Terlihat: Militansi Bangsa
Di atas kertas, Iran sulit dilumpuhkan karena
mereka memiliki modal yang tidak dimiliki banyak negara lain: Identitas Bangsa yang Militan. Sejarah panjang Persia
memberikan energi luar biasa bagi rakyatnya untuk bertahan habis-habisan.
Sebaliknya, Amerika Serikat tidak memiliki
"otoritas moral" atau urgensi eksistensial untuk menghancurkan Iran
sepenuhnya tanpa risiko kehancuran ekonomi global. Bagi AS, ini adalah operasi
militer; bagi Iran, ini adalah perjuangan hidup dan mati.
Pencerahan dan
Solusi: Mencari Keseimbangan Baru
Kondisi saat ini menunjukkan bahwa kedua belah
pihak sebenarnya tidak berada dalam posisi optimal.
Amerika tidak bisa menang mutlak dalam waktu singkat, dan Iran tidak bisa
mengusir Amerika tanpa pengorbanan yang meluluhlantakkan wilayahnya.
Apa yang akan terjadi jika nalar luar biasa ini
menjadi kenyataan?
Jika Amerika gagal menang cepat, Timur Tengah akan
membara hebat. Dunia akan dipaksa mencari keseimbangan baru di mana Amerika
kehilangan muka dan kendali atas jalur energi global.
Solusi Jalan
Tengah:
Redefinisi Diplomasi Asimetris: Mengingat risiko yang luar biasa jika kapal induk tenggelam, solusi
terbaik adalah pengakuan atas peran regional Iran secara proporsional.
De-eskalasi Berbasis Ketakutan Bersama: Kedua pihak harus sadar bahwa "kemenangan" dalam perang ini
adalah semu. Yang ada hanyalah kehancuran bersama ($Mutually$ $Assured$ $Destruction$) secara
ekonomi dan politik.
Keseimbangan Kawasan tanpa Intervensi Absolut: Dunia membutuhkan Timur Tengah yang stabil. Stabilitas ini hanya bisa dicapai jika Amerika mulai berbagi peran dengan kekuatan lokal dan berhenti memaksakan dominasi yang kini mulai bisa ditantang secara teknis.
Kesimpulannya: Iran mungkin
terlihat empuk di radar, namun mereka adalah "landak" yang siap
melukai siapa pun yang mencoba menggenggamnya terlalu keras. Menenggelamkan
kapal induk bukan sekadar aksi militer, melainkan pesan bahwa peta kekuatan
dunia telah bergeser.








