Oleh Harmen Batubara
Sejarah Timur Tengah sering kali dibaca sebagai
catatan panjang tentang bagaimana Washington memantapkan dirinya sebagai
penguasa tunggal. Sejak era Shah Reza Pahlevi, ketika Iran masih menjadi sekutu
terdekat AS dan negara pertama yang mengakui Israel, Amerika telah membangun
pengaruhnya lewat dua poros utama: menjadikan Israel kekuatan militer tak
tertandingi, dan memelihara konflik proksi yang membuat negara-negara Arab
terjebak dalam ketergantungan keamanan pada Gedung Putih.
Namun, zaman berganti. Ketika China mulai masuk
membawa angin perdamaian antara Arab Saudi dan Iran, Donald Trump melihat bahwa
"skenario lama" butuh penyegaran. Ia ingin Amerika tetap menjadi
penentu, namun dengan gaya baru yang lebih pragmatis dan transaksional. Di
sinilah "Board of Peace" muncul sebagai instrumen
baru untuk mengonsolidasikan legitimasi Amerika di era yang kian kompetitif
ini.
Peran
"Board of Peace": Antara Pembangunan dan Kekuasaan
"Board of Peace" bukan sekadar forum
diskusi, melainkan motor penggerak dari visi Trump untuk menata ulang kawasan,
khususnya Gaza. Peran utamanya meliputi:
Arsitek Rekonstruksi Gaza: Menyusun cetak biru untuk mengubah wilayah yang hancur menjadi kawasan
modern, menjanjikan, dan terintegrasi secara ekonomi.
Mobilisator Modal: Mengarahkan "uang dan kekuatan" dari negara-negara Arab untuk
mendanai pembangunan Palestina. Ini adalah strategi cerdik: pembangunan
dilakukan dengan biaya mitra regional, namun di bawah supervisi kepemimpinan
Amerika.
Penyeimbang Kekuatan: Menjaga agar ketegangan AS-Iran tidak meledak menjadi perang terbuka
yang merugikan pasar, sembari tetap memastikan dominasi pengaruh Amerika tidak
tergeser oleh aktor Timur lainnya.
Kehadiran
Indonesia: Ketulusan di Tengah Kepentingan
Di tengah papan catur kekuasaan ini, Indonesia
hadir membawa warna yang berbeda. Bergabungnya Indonesia didorong oleh semangat
historis sebagai bangsa yang pernah terjajah dan mandat konstitusi untuk
menghapuskan penjajahan di atas dunia.
Indonesia datang ke dalam lingkaran ini bukan untuk
mencari dominasi, melainkan dengan ketulusan (ikhlas)
untuk memastikan bahwa pembangunan Gaza benar-benar demi martabat bangsa
Palestina. Indonesia berperan sebagai "suara hati" yang mengingatkan
bahwa di balik modernitas dan uang yang mengalir, ada hak-hak kedaulatan yang
harus tetap dijunjung tinggi.
Melihat
Peluang demi Kawasan
Meskipun narasi utamanya adalah tentang legitimasi
Amerika, "Board of Peace" membuka celah peluang bagi kawasan:
Transformasi Ekonomi: Mengubah narasi kawasan dari "medan perang" menjadi
"pusat pertumbuhan" melalui pembangunan infrastruktur Gaza yang
modern.
Stabilitas Baru: Mencoba
meredam permusuhan berkepanjangan melalui ketergantungan ekonomi bersama
(interdependensi).
Jembatan Diplomasi: Memberi ruang bagi negara seperti Indonesia untuk menjadi mediator yang
menyeimbangkan kepentingan Barat dengan aspirasi dunia Islam dan kemanusiaan.
Pada akhirnya, panggung baru yang dibangun Trump
ini tetap menempatkan Amerika sebagai sutradara. Namun, dengan keterlibatan aktif
aktor-aktor yang membawa misi kemanusiaan murni, ada harapan bahwa hasil
akhirnya bukan sekadar dominasi kekuasaan, melainkan kedamaian yang bisa
dirasakan oleh mereka yang selama ini hanya menjadi penonton di tanah mereka
sendiri.








